Sabtu, 25 Februari 2017

Rihlah Ilmiah MAN 2 Ciamis




“CANDI BOROBUDUR SEBAGAI SALAH SATU WARISAN DUNIA”

Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk kenaikan kelas
Disusun oleh :
·         Dewi yuli yuliawati
·         Dzikri Hamdani
·         Faridah Hanum
·         Fitria Khoerunnisa
·         Iik Thoyyibah
·         Ima Sofia Rahma
·         Intan Maharani





Kementrian Agama RI
Madrasah Aliyah Negeri 2 Ciamis
Jln. Yos Sudarso No.53 Tlp.(0265)771432, Fax(0265)771432 Kabupaten Ciamis,Jawa Barat



“CANDI BOROBUDUR SEBAGAI SALAH  SATU  WARISAN DUNIA”


DISUSUN OLEH :
·         Dzikri Hamdani
·         Dewi Yuli Yuliawati
·         Faridah Hanum
·         Fitria Khoerunnisa
·         Iik Thoyyibah
·         Ima Sofia Rahma

Pada Tanggal :


Disetujui Oleh :
Wali kelas,




Hj. Uwang S.Pd
NIP.

Pembimbing,




Hj. Uwang S.Pd
NIP.


Mengetahui,
Kepala MAN 2 Ciamis,




Drs. H Kasrodin, M.M.Pd
NIP.




KATA PENGANTAR
                        Assalamualaikum wr,wb.
          Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “CANDI BOROBUDUR SEBAGAI SALAH SATU WARISAN DUNIA” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada:
1.      Bapak Drs. H Kasrodin, M.M.Pd selaku Kepala MAN 2 CIAMIS
2.      Ibu Uwang S.Pd selaku pembimbing sekaligus Wali Kelas XI IPA 2
3.      Bapak Dana S.Pd selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia
4.      Teman-teman kelas XI IPA 2 yang telah memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan karya ilmiah ini

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai latar belakang berdirinya candi Borobudur dan juga sebagai warisan dunia. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

      Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
                                                              

                                                                                                                            




                                                                                                                                                                                                                                                                                         Penulis,



                                                                                                                 Ciamis,   Februari 2016







DAFTAR ISI

Halaman Judul.................................................................................................................................. 1
Halaman daftar nama anggota kelompok......................................................................................... 2
Halaman persetujuan/pengesahan pembimbing................................................................................ 2
Kata Pengantar................................................................................................................................. 3
Daftar Isi........................................................................................................................................... 4
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................... 5
1.1               Latar Belakang Masalah..............................................................................5
1.2               Tujuan .........................................................................................................5
1.3               Perumusan Masalah ....................................................................................5
1.4               Metode Pengumpulan Data.........................................................................6
1.5               Sistematika Penulisan..................................................................................6
BAB II              PEMBAHASAN MASALAH..........................................................................................7
            2.1       Latar Belakang Sejarah Berdirinya............................................................7
            2.2       Letak dan Geografis7.................................................................................8
            2.3       Situasi dan Kondisi Candi..........................................................................8
            2.4       Patung Dan Pengaruh Ritual Di Masyarakat.............................................9
            2.5       Bagaimana Pemeliharaannya.....................................................................11
     2.6       Pengaruh Pengunjung Wisata Terhadap Perekonomian Masyarakat.........13
BAB III  KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................................................15
            3.1       Kesimpulan.................................................................................................15
            3.2       Saran-saran.................................................................................................15
LAMPIRAN-LAMPIRAN.............................................................................................................16
                       



Bab I
Pendahuluan

1.1    Latar belakang Masalah

Bumi Indonesia memiliki banyak kekayaan alam dan budaya yang tersebar di setiap sudut tanah air ini. Salah satu bukti kekayaan budaya, alam, dan sejarah Indonesia yang sangat indah terdapat di Yogyakarta.
 
Yogyakarta merupakan salah satu kekayaan bangsa ini yang masih terpelihara sampai saat ini. Disana terdapat kebudayaan asli bangsa yang masih terasa original, disana pula terdapat beberapa bagian peninggalan sejarah bangsa yang penting.

Yogyakarta yang dikenal sebagai Kota Pendidikan memiliki ruang dan sudut kehidupan yang edukatif serta area artistik yang begitu indah.

Salah satunya bisa kita jumpai di Candi Borobudur,sebuah arsitektur megah yang menyimpan banyak sekali sejarah yang nantinya akan menambah wawasan kita.

1.2    Tujuan

Tujuan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai berikut :
  1. Sebagai salah satu upaya dalam rangka menyelesaikan tugas Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.
  2. Sebagai salah satu kegiatan pembelajaran berbasis kompetensi, dengan lebih mengupayakan pendalaman materi praktik dan observasi.
  3. Sebagai salah satu upaya pengembangan diri pada siswa dalam rangka penggalian materi dan pemahaman khususnya mengenai materi edukasi sejarah dan budaya yang terdapat di Yogyakarta.


1.3    Perumusan Masalah

Perumusan masalah yang dibahas antara lain :

1.      Bagaimana sejarah berdirinya candi Borobudur?
2.      Bagaimana keadaan geografis candi Borobudur?
3.      Upaya apa yang harus dilakukan untuk menjaga keindahan candi Borobudur?
4.      Bagaimana  pengaruh pengunjung terhadap perekonomian masyarakat, sosial, politik dan budaya di sekitarnya?

1.4    Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan penulis menggunakan :
1.    Metode observasi (Tekhnik pengamatan langsung)
Pada teknik ini, penulis terjun langsung meneliti Candi Borobudur dan mencari informasi-informasi yang berhubungan denganCandi Borobudur di internet.


2.    Metode analisis (Studi pustaka)
Pada metode ini, penulis membaca buku-buku dan tulisan yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah.


1.5    Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam beberapa teknik penulisan yaitu :
ü  BAB I merupakan Bab Pendahuluan, menguraikan mengenai latar belakang, tujuan penulisan, metodologi penulisan, dan sistematika penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
ü  BAB II merupakan Bab Pembahasan, didalamnya diuraikan secara terperinci mengenai Situs Candi Borobudur, Obyek Monjali, Museum Dirgantara, Kebun Binatang Gembiraloka, dan yang lainnya dari hasil kunjungan Rihlah Ilmiah.
ü  BAB III merupakan Bab Penutup, dijelaskan mengenai kesimpulan dari tema yang dibahas dan saran yang akan disampaikan.
Bab II
       Pembahasan

2.1    LATAR BELAKANG BERDIRINYA CANDI BOROBUDUR

candi borobudur merupakan warisan budaya indonesia yang sudah terkenal sampai ke seluruh dunia. Bangunan ini merupakan candi budha terbesar didunia dan ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO. Bentuknya yang megah dan detail arsitekturnya yang unik membuat semua orang ingin mengunjungi borobudur yang penasaran dengan ceritanya,borobudur mencuri perhatian dunia sejak HC cornelius menemukan lokasinya atas perintah Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814. Pekerjaan menggali lokasi yang diduga monumen besar kemudian dilanjutkan oleh hotman salah satu pejabat pemerintah belanda yang saat itu para arkeolog berlomba-lomba mencari tahu asal usul candi budha terbesar didunia ini.
candi borobudur diyakini merupakan peninggalan kerajaan Dinasti Sailendra masa pemerintahan  raja Samaratungga dari Kerajaan Mataram Kuno dan selesai dibangun pada abad ke-8. Banyak sekali misteri candi borobudur yang belum terkuak ,apa sebenarnya nama asli candi borobudur tidak ada prasasti atau buku yang menjelaskan dengan pasti tentang pembanguan borobudur,ada yang mengatakan nama tersebut berasal dari nama samara budhara memiliki arti gunung yang lerengnya terletak teras teras ada juga yang mengatakan borobudur berasal dari ucapan para budha yang mengalami pergeseran satu satu nya tulisan yang menyebutkan borobudur pertama kali adalah thomas Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya yang berjudul sejarah pulau jawa . Para ahli sejarah memperkirakan Sir Thomas Stamford Raffles menyebut borobudur dari kata bore dan budur ,bore artinya ialah desa sebuah desa yang terletak di dekat lokasi letak candi borobudur ditemukan sedangkan budur artinya purba.
Sejarah berdirinya candi borobudur diperkirakan dibangun pada tahun 750 masehi oleh kerajaan syailendra yang pada waktu itu menganut agama budha,pembangunan itu sangat misterius karena manusia pada abad ke 7 belum mengenal perhitungan arsitektur yang tinggi tetapi borobudur dibangun perhitungan arsitektur yang canggih ,hingga kini tidak satu pun yang dapat menjelaskan bagaimana cara pembangunan dan sejarah candi borobudur ini.

Sudah banyak ilmuan dari seluruh penjuru dunia yang datang namun tidak satu pun yang berhasil mengungkapkan misteri pembangunan borobudur. Salah satu pertayaan yang membuat para peneliti penasaran adalah dari mana asal batu-batu besar yang ada di candi borobudur dan bagaimana menyusunnya dengan posisi dan arsitektur yang sangat rapih. Ada yang memperkirakan batu itu berasal dari gunung merapi namun bagaimana membawanya dari gunung merapi menuju lokasi candi mengingat lokasinya berada di atas bukit.
Candi borobudur memiliki 72 stupa yang berbentuk lonceng ajaib, Stupa terbesar terletak di puncak candi sementara yang lain mengelilingi stufa hingga kebawah. Ketika ilmuan menggambar denah candi borobudur, mereka menemukan pola-pola aneh yang mengarah pada fungsi borobudur sebagai jam matahari, jarum jamnya berupa bayangan stupa yang besar dan jatuh tepat di stupa lantai bawah  namun belum di ketahui secara pasti bagaimana pembagian waktu yang di lakukan dengan menggunakan candi borobudur ada yang mengatakan jam pada candi borobudur menunjukan tanda kapan masa bercocok tanam atau masa panen.


2.2              Letak Dan Geografis Candi Borobudur

            Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah 100 km disebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km disebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Mashehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbear di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar dunia.
Monumen ini terdiri atas enam teras  berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga plataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbsar terletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
              Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan  kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur melalui ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sampai terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi buddha. Tiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanan ini peziarah berjalan melalui serangkaina lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada aabad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyalamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.
Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan. Tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
2.3              Situasi dan kondisi candi

Kondisi candi Borobudur di Jawa Tengah kini memprihatinkan. Candi tersebut kini sudah tidak nyaman dikunjungi. Hal ini diperparah dengan kondisi candi banyak yang rusak.
Seperti yang terlihat pada Kamis (18/16), para pekerja sedang sibuk memperbaiki candi yang rusak. Pada sisi kiri sedang dilakukan pemugaran total candi. Hal ini disebabkan struktur batu candi yang sudah lapuk termakan usia dan akibat gempa Yogjakarta di tahun 2006.
“Batu candi sudah rusak akibat umur sudah tua dan gempa tahun 2006. jadi harus diperbaiki,” ujar  salah seorang pekerja perbaikan candi.
Candi borobudur tampak sepi dan mengalami penurunan pengunjung. Penurunan ini disebabkan imbas dari gempa Yogjakarta di tahun 2006 yang merusak candi, sehingga daya tarik candi borobudur sedikit berkurang.
Seperti yang dikatakan petugas tiket candi borobudur, ”Pengunjung Candi Borobudur mengalami penurunan sekitar 20 persen. Penyebabnya mungkin karena dampak dari gempa tahun 2006,” ujarnya.
Kenyamanan dan kebersihan Candi Borobudur juga terlihat kurang. Banyak coretan di dinding candi dan sampah berserakan di areal candi. Selain itu juga di kawasan Candi Borobudur banyak pedagang yang menawarkan barang dagangan secara paksa dan mengganggu kenyamanan pengunjung.
“Petugas sudah membersihkan sampah dan coretan di dinding candi, tapi tetap saja masih ada pengunjung yang buang sampah sembarangan dan mencoret dinding candi,” ujar Slamet, petugas keamanan.
Slamet juga menambahkan untuk masalah pedagang yang berjualan di areal candi dan menawarkan dagangan secara paksa, ”Petugas sudah memberikan tempat berjualan di luar pintu masuk dan akan bertindak tegas kepada pedagang yang memaksa pengunjung.” (AZWAR)


2.4               Patung Dan Pengaruh Ritual Di Masyarakat

A.    Alkulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu-Buddha

Akulturasi kebudayaan yaitu suatu proses percampuran antara unsur-unsur kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, sehingga membentuk kebudayaan baru. Kebudayaan baru yang merupakan hasil percampuran itu masing-masing tidak kehilangan kepribadian/ciri khasnya. Oleh karena itu, untuk dapat berakulturasi, masing-masing kebudayaan harus seimbang. Begitu juga untuk kebudayaan Hindu-Buddha dari India dengan kebudayaan Indonesia asli.
Contoh hasil akulturasi antara kebudayaan Hindu-Buddha dengan kebudayaan  Indonesia asli sebagai berikut.
1.      Seni Bangunan

Bentuk-bentuk bangunan candi di Indonesia pada umumnya merupakan bentuk akulturasi antara unsur-unsur budaya Hindu- Buddha dengan unsur budaya Indonesia asli. Bangunan yang megah, patung-patung perwujudan dewa atau Buddha, serta bagian bagian candi dan stupa adalah unsur-unsur dari India. Bentuk candi-candi di Indonesia pada hakikatnya adalah punden berundak yang merupakan unsur Indonesia asli. Candi Borobudur merupakan salah satu contoh dari bentuk akulturasi tersebut.

2.      Seni Rupa dan Seni Ukir

Masuknya pengaruh India juga membawa perkembangan dalam bidang seni rupa, seni pahat, dan seni ukir. Hal ini dapat dilihat pada relief atau seni ukir yang dipahatkan pada bagian dinding-dinding candi. Misalnya, relief yang dipahatkan pada dinding-dinding pagar langkan di Candi Borobudur yang berupa pahatan riwayat Sang Buddha. Di sekitar Sang Buddha terdapat lingkungan alam Indonesia seperti rumah panggung dan burung merpati.
Pada relief kalamakara pada candi dibuat sangat indah. Hiasan relief kalamakara, dasarnya adalah motif binatang dan tumbuh-tumbuhan. Hal semacam ini sudah dikenal sejak masa sebelum Hindu. Binatang-binatang itu dipandang suci, maka sering diabadikan dengan cara di lukis.

3.       Seni Sastra dan Aksara

Pengaruh India membawa perkembangan seni sastra di Indonesia. Seni sastra waktu itu ada yang berbentuk prosa dan ada yang berbentuk tembang (puisi). Berdasarkan isinya, kesusasteraan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tutur (pitutur kitab keagamaan), kitab hukum, dan wiracarita (kepahlawanan).
Bentuk wiracarita ternyata sangat terkenal di Indonesia, terutama kitab Ramayana dan Mahabarata. Kemudian timbul wira carita hasil gubahan dari para pujangga Indonesia.Misalnya, Baratayuda yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Juga munculnya cerita-cerita Carangan.
Berkembangnya karya sastra terutama yang bersumber dari Mahabarata dan Ramayana, melahirkan seni pertunjukan wayang kulit (wayang purwa). Pertunjukan wayang kulit di Indonesia, khususnya di Jawa sudah begitu mendarah daging. Isi dan cerita pertunjukan wayang banyak mengandung nilai-nilai yang bersifat edukatif (pendidikan) . Cerita dalam pertunjukan wayang berasal dari India, tetapi wayangnya asli dari Indonesia. Seni pahat dan ragam luas yang ada pada wayang disesuaikan dengan seni di Indonesia.
 Di samping bentuk dan ragam hias wayang, muncul pula tokoh-tokoh pewayangan yang khas Indonesia.Misalnya tokoh-tokoh punkawan seperti Semar, Gareng, dan Petruk. Tokoh-tokoh ini tidak ditemukan di India. Perkembangan seni sastra yang sangat cepat didukung oleh penggunaan huruf pallawa, misalnya dalam karya-karya sastra Jawa Kuno. Pada prasasti-prasasti yang ditemukan terdapat unsur India dengan unsur budaya Indonesia. Misalnya, ada prasasti dengan huruf Nagari (India) dan huruf Bali Kuno (Indonesia).

4.      Sistem Kepercayaan

Sejak masa praaksara, orang-orang di Kepulauan Indonesia sudah mengenal simbol-simbol yang bermakna filosofis. Sebagai contoh, kalau ada orang meninggal, di dalam kuburnya disertakan benda-benda. Di antara benda-benda itu ada lukisan seorang naik perahu, ini memberikan makna bahwa orang yang sudah meninggal rohnya akan melanjutkan perjalanan ketempat tujuan yang membahagiakanya itu alam baka. Masyarakat waktu itu sudah percaya adanya kehidupan sesudah mati, yakni sebagai roh halus. Oleh karena itu, roh nenek moyang dipujaoleh orang yang masih hidup (animisme).
Setelah masuknya pengaruh India kepercayaan terhadap roh halus tidak punah. Misalnya dapat dilihat pada fungsi candi. Fungsi candi atau kuil di India adalah sebagai tempat pemujaan. Di Indonesia, di samping sebagai tempat pemujaan, candi juga sebagai makam raja atau untuk menyimpan abu jenazah raja yang telah meninggal. Itulah sebabnya peripih tempat penyimpanan abu jenazah raja didirikan patung raja dalam bentuk mirip dewa yang dipujanya.Ini jelas merupakan perpaduan antara fungsi candi di India dengan tradisi pemakaman dan pemujaan roh nenek moyang di Indonesia.
Bentuk bangunan lingga dan yoni juga merupakan tempat pemujaan terutama bagi orang-orang Hindu penganut Syiwaisme. Lingga adalah lambang Dewa Syiwa. Secara filosofis lingga dan yoni adalah lambang kesuburan dan lambang kemakmuran. Lingga lambang laki-laki dan yoni lambang perempuan.

5.      Sistem Pemerintahan

Setelah datangnya pengaruh India di Kepulauan Indonesia, dikenal adanya sistem pemerintahan secara sederhana. Pemerintahan yang dimaksud adalah semacam pemerintah disuatu desa atau daerah tertentu. Rakyat mengangkat seorang pemimpin atau semacam kepala suku. Orang yang dipilih sebagai pemimpin biasanya orang yang sudah tua (senior), arif, dapat membimbing, memiliki kelebihan-kelebihan tertentu termasuk dalam bidang ekonomi, berwibawa, serta memiliki semacam kekuatan gaib (kesaktian). Setelah pengaruh India masuk, maka pemimpin tadi diubah menjadi raja dan wilayahnya disebut kerajaan. Hal ini secara jelas terjadi di Kutai.
Salah satu bukti akulturasi dalam bidang pemerintahan, misalnya seorang raja harus berwibawa dan dipandang memiliki kekuatan gaib seperti pada pemimpin masa sebelum Hindu-Buddha. Karena raja memiliki kekuatan gaib, maka oleh rakyat raja dipandang dekat dengan dewa. Raja kemudian disembah, dan kalau sudah meninggal, rohnya dipuja-puja.


2.5       Bagaimana Pemeliharaannya

Balai Konservasi Borobudur dalam beberapa tahun terakhir mengurangi penggunaan bahan kimia dalam pemeliharaan Candi Borobudur untuk pelestarian lingkungan dan kenyamanan pengunjung.
Kepala Seksi Layanan Konservasi Balai Konservasi Borobudur Iskandar M. Siregar mengatakan, pembersihan atau pemeliharaan candi tidak lagi memakai bahan kimia sejak tahun 2010. Menurutnya, penggunaan bahan kimia saat ini hanya untuk mengelem batu yang pecah atau retak dan perbaikan kebocoran, sedangkan untuk mengendalikan pertumbuhan lumut tidak lagi menggunakan bahan kimia.
Pembersihan atau pemeliharaan Candi Borobudur, katanya kini dilakukan manual dengan menyikat atau mencabut sehingga setiap hari petugas melakukannya secara bergiliran. Ia menuturkan, sebelumnya selalu menggunakan cairan kimia untuk menghambat pertumbuhan lumut bisa tertunda dua hingga tiga bulan.
"Kalau dulu hampir setiap tahun Candi Borobudur disemprot bahan kimia untuk membasmi lumut, namun sekarang tidak lagi digunakan," katanya.
Menurut dia dampak pemakaian bahan kimia tersebut hingga sekarang belum kelihatan, tetapi untuk lingkungan sewaktu-waktu bisa saja terjadi dampaknya. "Selain itu, untuk pekerja bahan kimia berbahaya termasuk ke batu candi. Mungkin sekarang tidak kelihatan, tetapi 100 atau 200 tahun yang akan datang bisa saja terjadi dampak tersebut," katanya.
.

1. Kelestarian Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia
Candi Borobudur pertama kali dipugar pada tahun 1907-1911 oleh van Erp untuk memperbaiki dan mengembalikan bagian Arupadatu dan stupa induk. Pemugaran kedua pada tahun 1973-1983 oleh pemerintah Indonesia yang dibantu dari Unesco dan negara-negara donor. Pemugaran tahap kedua adalah untuk memperbaiki dan mengembalikan bagian Rupadatu (tubuh candi). Meskipun pemugaran dinyatakan sudah selesai, tetapi masih meninggalkan pekerjaan besar yaitu pemeliharaan, perawatannya, dan pelestariannya sebagai Warisan Dunia. Candi Borobudur sebagai salah satu karya besar nenek moyang bangsa Indonesia dan sudah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) tentunya memerlukan pemeliharaan, perawatan, dan upaya pelestarian  secara khusus sesuai dengan standard pemeliharaan sebagai tinggalan Warisan Dunia.
Pada kenyataannya kelestarian Candi Borobudur tentunya sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dimaksud adalah aspek bahan dan aspek konstruksi bangunan candi. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi kelestarian Candi Borobudur adalah faktor lingkungan, baik yang bersifat biotis (lumut, algae, dan jasad renik lainnya) dan yang bersifat abiotis (panas matahari, hujan, kelembaban, dan sebagainya). Kedua faktor yang tersebut saling berinteraksi yang pada akhirnya dapat  mempengaruhi kelestarian terhadap Candi Borobudur. Lebih-lebih bangunan Candi Borobudur berada di tempat yang terbuka sehingga faktor lingkungan yang bersifat abiotis, khususnya pengaruh air hujan, sangat berpengaruh terhadap kelestarian bangunan Candi Borobudur.
Selain itu itu juga ada faktor lain yang dapat mempengaruhi kelestarian Candi Borobudur sebagai dampak negatif dari pemanfaatan sebagai obyek wisata. Pemanfaatan yang intensif sebagai obyek wisata antara lain dapat mengakibatkan tekanan pada daya dukung (carrying capasity) baik terhadap bangunan candi maupun lingkungan.
Oleh karena itu, untuk meminimalisasi kerusakan akibat faktor-faktor penyebab kerusakan dan dampak negatif dari pemanfaatan dilakukan berbagai bentuk monitoring secara kontinyu. Monitoring yang kontinyu ini juga bertujuan untuk menciptakan kondisi keterawatan (state of conservation) sesuai standard keterawatan sebagai Warisan Dunia. Monitoring rutin yang dilakukan terhadap Candi Borobudur dan lingkungannya :

1.      Monitoring Keterawatan Batu Candi
2.      Monitoring Stabilitas Candi dan Bukit
3.      Monitoring Dampak Lingkungan
4.      Monitoring Geohidrologi
5.      Monitoring Kawasan


2.6       Pengaruh Pengunjung Wisata Terhadap Perekonomian Masyarakat, Sosial, Politik Dan Nilai Budaya
A. Pengaruh Objek Wisata Candi Borobudur Terhadap Wisatawan

   Candi Borobudur memiliki keistimewaan dan pesona keindahan yang bukan hanya dari bentuk bangunan dan tata ruang, namun juga dari sisi filosofi dan sejarahnya. Adanya Objek Wisata Candi Borobudur yang dapat mendatangkan wisatawan baik dari dalam negeri maupun wisatawan asing. Objek Wisata Candi Borobudur juga memberikan pengaruh bagi wisatawan baik pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh positifnya yaitu wisatawan dapat menikmati keindahannya, sebagai tempat peribadatan bagi umat yang beragama Budha . Ada juga pengaruh negatifnya seperti para wisatawan kelelahan saat mencapai puncak tertinggi Candi Borobudur akibatnya banyak wisatawan yang pingsan.

B. Pengaruh Objek Wisata Candi Borobudur Terhadap Pedagang

Hampir semua penduduk di sekitar Candi Borobudur memperoleh pendapatan dari berdagang di kawasan Candi Borobudur. Adanya obyek wisata candi Borobudur memberikan pengaruh positif bagi perilaku sosial ekonomi pedagang yaitu semakin luasnya kesempatan usaha, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan dan pola pikir pedagang dalam pengembangan usaha dagang. Sedangkan pengaruh negatifnya yaitu meningkatnya harga di daerah wisata, adanya persaingan dan pertentangan atau pertikaian dan pencemaran lingkungan. Keberadaan taman borobudur berpengaruh terhadap perilaku sosial ekonomi pedagang. Proses interaksi sosial menghasilkan dua pola yaitu pola interaksi sosial asosiatif dan pola interaksi sosial disosiatif. Bagi pedagang agar memiliki sikap terbuka untuk menerima perbedaan-perbedaan agar lebih aktif memberikan penyuluhan untuk mencegah persaingan dan pertentangan atau pertikaian antara pedagang untuk menciptakan lingkungan taman yang aman dan nyaman.

C.  Keuntungan Yang Di Dapat  Pedagang Di Kawasan Candi Borobudur

Candi Borobudur yang terletak di kabupaten Magelang, sangat membantu sekali dalam perekonomian rakyat setempat. Karena dengan adanya tempat Wisata Candi Borobudur disekitar masyarakat tersebut, para penduduk dapat membuka usaha di sekitar Candi Borobudur seperti berdagang. Banyak masyarakat yang berjualan disekitar lingkungan Objek Wisata Candi Borobudur ,baik yang berjualan makanan maupun cendera mata. Ada juga yang menyediakan jasa transportasi.
Adanya Objek Wisata Candi Borobudur memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan para pedagang karena pedagang dapat memanfaatkan potensi Objek Wisata Candi Borobudur sebagai lapangan pekerjaan bagi mereka. Dengan banyaknya usaha dagang yang dikelola oleh para pedagang akan membantu pedagang dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup pedagang. Adanya Objek Wisata Candi Borobudur yang dimanfaatkan oleh penduduk sekitar Candi Borobudur terutama yang bekerja menjadi pedagang di Taman Borobudur dapat membantu tingkat kemakmuran dan kesejahteraan hidup para pedagang.
Pendapatan merupakan keuntungan ekonomi yang didapat seseorang yang menyangkut jumlah yang dinyatakan dengan uang. Pendapatan yang diperoleh akan digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari para pedagang yang meliputi kebutuhan pangan sandang dan papan yang merupakan kebutuhan primer maupun sekunder. Untuk membiayai kebutuhan hidupnya ada kalanya dari pendapatan yang diperoleh apabila ada sisa sebagai pedagang di Taman Borobudur dengan memperoleh penghasilan bersih antara Rp 30.000 – Rp 50.000 jika berdagang pada hari biasa. Tetapi jika pedagang pada waktu liburan biasa mencapai ±Rp. 100.000 perhari. Candi juga menyerap tenaga kerja, sehingga tidak banyak jumlah pengangguran.

D.    Manfaat Objek Wisata Candi Borobudur Sebagai Pendidikan Bagi Wisatawan Para Pelajar 

Bagi dunia pendidikan Candi Borobudur merupakan tempat kajian ilmu, khususnya ilmu sejarah. Siswa atau kalangan pendidikan dengan mengunjungi Objek Wisata Candi Borobudur dapat mengetahui dan menggali sejarah masa lampau dan mempelajari kehidupan dimasa lalu. Dengan mengetahui sejarah berdirinya maupun pada masa kejayaannya maka para siswa atau pelajar akan sadar betapa besar peradaban bangsa kita dimasa lalu. Candi Borobudur adalah salah satu peninggalan sejarah dan budaya yang harus dilestarikan dan dijaga agar nilai-nilai bangsa ini tidak jatuh. Dikalangan pelajar, Candi Boroudur merupakan bukti dari betapa tingginya peradaban budaya bangsa kita pada waktu dulu.
Dengan mempelajari sejarah dan budaya masa lalu, pelajar akan mengerti perjuangan para pendahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Oleh karena itu, sebagai pelajar seharusnya menjaga dan melestarikan budaya dan tempat-tempat bersejarah yang berada dibumi Indonesia ini seperti Candi Borobudur.





















Bab III
KESIMPULAN DAN SARAN



3.1       Kesimpulan

Candi borobudur merupakan salah satu warisan dunia yang mesti kita jaga, agar generasi muda selanjutnya bisa menikmati betapa indahnya candi borobudur tersebut. Bentuk-bentuk bangunan candi di Indonesia pada umumnya merupakan bentuk akulturasi antara unsur-unsur budaya Hindu- Buddha dengan unsur budaya Indonesia asli.
Candi Borobudur adalah candi terbesar agama budha di dunia. Kemegahan Candi Borobudur tidak hanya menunjukan kemampuan rancang bangunan nenek moyang Indonesia yang luar biasa tetapi menunjukan penguasaan ilmu perbintangan . Struktur dari Candi Borobudur merupakan deskripsi dari perjalanan kehidupan manusia dan kaitanya dengan alam semesta yang diyakini oleh warga budha mahayana , yaitu Kmadhatu , Rupadhatu dan Arupadhatu
Pada kenyataannya kelestarian Candi Borobudur tentunya sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dimaksud adalah aspek bahan dan aspek konstruksi bangunan candi. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi kelestarian Candi Borobudur adalah faktor lingkungan, baik yang bersifat biotis (lumut, algae, dan jasad renik lainnya) dan yang bersifat abiotis (panas matahari, hujan, kelembaban, dan sebagainya).
3.2       Saran
Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan menyajikan beberapa saran diantaranya:
a.         Kita sebagai generasi muda harus menjadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan berlatih supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa.
b.        Kita sebagai warga Negara Indonesia  harus menjaga dan melestarikan budaya bangsa dengan memelihara tempat – tempat bersejarah sebagai peninggalan nenek moyang kita.
c.         Penulis berharap dengan berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan generasi muda mampu memilih dan memilah  budaya yang masuk dan berusaha mempertahankan kebudayaan bangsa sendiri.













LAMPIRAN-LAMPIRAN







Tidak ada komentar:

Posting Komentar