“CANDI BOROBUDUR SEBAGAI SALAH SATU WARISAN DUNIA”
Makalah ini disusun sebagai salah
satu syarat untuk kenaikan kelas
Disusun oleh :
·
Dewi yuli yuliawati
·
Dzikri Hamdani
·
Faridah Hanum
·
Fitria Khoerunnisa
·
Iik Thoyyibah
·
Ima Sofia Rahma
·
Intan Maharani
Kementrian Agama RI
Madrasah Aliyah Negeri 2 Ciamis
Jln. Yos Sudarso No.53 Tlp.(0265)771432, Fax(0265)771432 Kabupaten
Ciamis,Jawa Barat
“CANDI BOROBUDUR SEBAGAI SALAH SATU WARISAN DUNIA”
DISUSUN OLEH :
·
Dzikri Hamdani
·
Dewi Yuli
Yuliawati
·
Faridah Hanum
·
Fitria
Khoerunnisa
·
Iik Thoyyibah
·
Ima Sofia Rahma
Pada Tanggal :
Disetujui Oleh :
|
Wali kelas,
Hj. Uwang S.Pd
NIP.
|
|
Pembimbing,
Hj. Uwang S.Pd
NIP.
|
|
|
Mengetahui,
Kepala MAN 2 Ciamis,
Drs. H Kasrodin, M.M.Pd
NIP.
|
|
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr,wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “CANDI BOROBUDUR SEBAGAI SALAH SATU WARISAN DUNIA” ini dengan
baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada:
1.
Bapak Drs. H Kasrodin, M.M.Pd
selaku Kepala MAN 2 CIAMIS
2.
Ibu Uwang S.Pd selaku pembimbing
sekaligus Wali Kelas XI IPA 2
3.
Bapak Dana S.Pd selaku guru mata
pelajaran Bahasa Indonesia
4.
Teman-teman kelas XI IPA 2 yang
telah memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan
karya ilmiah ini
Kami sangat berharap makalah ini
dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai latar
belakang berdirinya candi Borobudur dan juga sebagai warisan dunia. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Penulis,
Ciamis, Februari 2016
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul..................................................................................................................................
1
Halaman
daftar nama anggota kelompok......................................................................................... 2
Halaman
persetujuan/pengesahan pembimbing................................................................................ 2
Kata
Pengantar................................................................................................................................. 3
Daftar
Isi........................................................................................................................................... 4
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................................................... 5
1.1
Latar Belakang
Masalah..............................................................................5
1.2
Tujuan .........................................................................................................5
1.3
Perumusan
Masalah ....................................................................................5
1.4
Metode
Pengumpulan Data.........................................................................6
1.5
Sistematika
Penulisan..................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN
MASALAH..........................................................................................7
2.1 Latar Belakang Sejarah Berdirinya............................................................7
2.2 Letak dan Geografis7.................................................................................8
2.3 Situasi dan Kondisi Candi..........................................................................8
2.4 Patung Dan Pengaruh Ritual Di Masyarakat.............................................9
2.5 Bagaimana Pemeliharaannya.....................................................................11
2.6 Pengaruh Pengunjung Wisata Terhadap
Perekonomian Masyarakat.........13
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................................................15
3.1 Kesimpulan.................................................................................................15
3.2 Saran-saran.................................................................................................15
LAMPIRAN-LAMPIRAN.............................................................................................................16
Bab
I
Pendahuluan
1.1
Latar belakang
Masalah
Bumi Indonesia memiliki
banyak kekayaan alam dan budaya yang tersebar di setiap sudut tanah air ini.
Salah satu bukti kekayaan budaya, alam, dan sejarah Indonesia yang sangat indah
terdapat di Yogyakarta.
Yogyakarta merupakan salah
satu kekayaan bangsa ini yang masih terpelihara sampai saat ini. Disana
terdapat kebudayaan asli bangsa yang masih terasa original, disana pula
terdapat beberapa bagian peninggalan sejarah bangsa yang penting.
Yogyakarta yang dikenal sebagai Kota Pendidikan
memiliki ruang dan sudut kehidupan yang edukatif serta area artistik yang
begitu indah.
Salah satunya bisa kita jumpai di Candi Borobudur,sebuah arsitektur
megah yang menyimpan banyak sekali sejarah yang nantinya akan menambah wawasan
kita.
1.2
Tujuan
Tujuan penyusunan Karya
Tulis Ilmiah ini adalah sebagai berikut :
- Sebagai salah satu upaya dalam rangka menyelesaikan tugas Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.
- Sebagai salah satu kegiatan pembelajaran berbasis kompetensi, dengan lebih mengupayakan pendalaman materi praktik dan observasi.
- Sebagai salah satu upaya pengembangan diri pada siswa dalam rangka penggalian materi dan pemahaman khususnya mengenai materi edukasi sejarah dan budaya yang terdapat di Yogyakarta.
1.3
Perumusan
Masalah
Perumusan masalah yang dibahas antara lain :
1.
Bagaimana
sejarah berdirinya candi Borobudur?
2.
Bagaimana
keadaan geografis candi Borobudur?
3.
Upaya apa yang
harus dilakukan untuk menjaga keindahan candi Borobudur?
4.
Bagaimana pengaruh pengunjung terhadap perekonomian
masyarakat, sosial, politik dan budaya di sekitarnya?
1.4
Metode
Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan penulis
menggunakan :
1.
Metode
observasi (Tekhnik pengamatan langsung)
Pada teknik
ini, penulis terjun langsung meneliti Candi Borobudur dan mencari informasi-informasi
yang berhubungan denganCandi Borobudur di internet.
2.
Metode analisis
(Studi pustaka)
Pada metode ini, penulis membaca
buku-buku dan tulisan yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah.
1.5
Sistematika
Penulisan
Sistematika penulisan Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam beberapa teknik
penulisan yaitu :
ü BAB I merupakan Bab Pendahuluan, menguraikan mengenai latar belakang,
tujuan penulisan, metodologi penulisan, dan sistematika penulisan Karya Tulis
Ilmiah ini.
ü BAB II merupakan Bab Pembahasan, didalamnya diuraikan secara terperinci
mengenai Situs Candi Borobudur, Obyek Monjali, Museum Dirgantara, Kebun
Binatang Gembiraloka, dan yang lainnya dari hasil kunjungan Rihlah Ilmiah.
ü BAB III merupakan Bab Penutup, dijelaskan mengenai kesimpulan dari tema
yang dibahas dan saran yang akan disampaikan.
Bab II
Pembahasan
2.1
LATAR BELAKANG
BERDIRINYA CANDI BOROBUDUR
candi borobudur merupakan warisan budaya indonesia yang sudah terkenal sampai ke seluruh
dunia. Bangunan ini merupakan candi budha terbesar didunia dan ditetapkan
sebagai salah satu warisan
budaya dunia oleh UNESCO. Bentuknya yang megah dan detail arsitekturnya yang
unik membuat semua orang ingin mengunjungi borobudur yang penasaran dengan
ceritanya,borobudur mencuri perhatian dunia sejak HC cornelius menemukan
lokasinya atas perintah Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814. Pekerjaan
menggali lokasi yang diduga monumen besar kemudian dilanjutkan oleh hotman
salah satu pejabat pemerintah belanda yang saat itu para arkeolog berlomba-lomba
mencari tahu asal usul candi budha terbesar didunia ini.
candi borobudur diyakini merupakan peninggalan kerajaan Dinasti Sailendra masa pemerintahan raja Samaratungga dari Kerajaan Mataram Kuno dan selesai dibangun pada abad ke-8. Banyak sekali misteri candi borobudur
yang belum terkuak ,apa sebenarnya nama asli candi borobudur tidak ada prasasti
atau buku yang menjelaskan dengan pasti tentang pembanguan borobudur,ada yang
mengatakan nama tersebut berasal dari nama samara budhara memiliki arti gunung
yang lerengnya terletak teras teras ada juga yang mengatakan borobudur berasal
dari ucapan para budha yang mengalami pergeseran satu satu nya tulisan yang
menyebutkan borobudur pertama kali adalah thomas Sir Thomas Stamford Raffles
dalam bukunya yang berjudul sejarah pulau jawa . Para ahli sejarah
memperkirakan Sir Thomas Stamford Raffles menyebut borobudur dari
kata bore dan budur ,bore artinya ialah desa sebuah desa yang terletak di dekat
lokasi letak candi borobudur ditemukan sedangkan budur artinya purba.
Sejarah berdirinya
candi borobudur diperkirakan dibangun
pada tahun 750 masehi oleh kerajaan syailendra yang pada waktu itu
menganut agama budha,pembangunan itu sangat misterius karena manusia pada abad
ke 7 belum mengenal perhitungan arsitektur yang tinggi tetapi borobudur
dibangun perhitungan arsitektur yang canggih ,hingga kini tidak satu pun yang
dapat menjelaskan bagaimana cara pembangunan dan sejarah candi borobudur
ini.
Sudah banyak ilmuan dari seluruh penjuru dunia yang
datang namun tidak satu pun yang berhasil mengungkapkan misteri pembangunan
borobudur. Salah satu pertayaan yang membuat para peneliti penasaran adalah
dari mana asal batu-batu besar yang ada di candi borobudur dan bagaimana
menyusunnya dengan posisi dan arsitektur yang sangat rapih. Ada yang
memperkirakan batu itu berasal dari gunung merapi namun bagaimana membawanya
dari gunung merapi menuju lokasi candi mengingat lokasinya berada di atas bukit.
Candi borobudur memiliki 72 stupa yang berbentuk
lonceng ajaib, Stupa terbesar
terletak di puncak candi sementara yang lain mengelilingi stufa hingga kebawah.
Ketika ilmuan menggambar denah candi borobudur, mereka menemukan pola-pola aneh
yang mengarah pada fungsi borobudur sebagai jam matahari, jarum jamnya berupa bayangan stupa yang besar dan jatuh tepat di stupa
lantai bawah namun belum di
ketahui secara pasti bagaimana pembagian waktu yang di lakukan dengan
menggunakan candi borobudur ada yang mengatakan jam pada candi borobudur
menunjukan tanda kapan masa bercocok tanam atau masa panen.
2.2
Letak Dan
Geografis Candi Borobudur
Borobudur
adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.
Lokasi candi adalah 100 km disebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah
barat Surakarta, dan 40 km disebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa
didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Mashehi
pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha
terbear di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar dunia.
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya
terdapat tiga plataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel
relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief
Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbsar terletak di
tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan
melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk
bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) dharmachakra
mudra (memutar roda dharma).
Monumen
ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk
memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat
manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para
peziarah masuk melalui sisi timur melalui ritual di dasar candi dengan berjalan
melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sampai terus naik ke undakan
berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi buddha. Tiga tingkatan
itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah
berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanan ini
peziarah berjalan melalui serangkaina lorong dan tangga dengan menyaksikan tak
kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar
langkan.
Menurut bukti-bukti sejarah,
Borobudur ditinggalkan pada aabad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan
Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak
ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford, yang saat itu menjabat sebagai
Gubernur Jendral Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami
serangkaian upaya penyalamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar
pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan
UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.
Borobudur kini masih digunakan
sebagai tempat ziarah keagamaan. Tiap tahun umat Buddha yang datang dari
seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati
Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal
di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
2.3
Situasi dan
kondisi candi
Kondisi
candi Borobudur di Jawa Tengah kini memprihatinkan. Candi tersebut kini sudah
tidak nyaman dikunjungi. Hal ini diperparah dengan kondisi candi banyak yang
rusak.
Seperti yang terlihat pada Kamis
(18/16), para pekerja sedang sibuk memperbaiki candi yang rusak. Pada sisi kiri
sedang dilakukan pemugaran total candi. Hal ini disebabkan struktur batu candi
yang sudah lapuk termakan usia dan akibat gempa Yogjakarta di tahun 2006.
“Batu candi sudah rusak akibat umur sudah tua dan
gempa tahun 2006. jadi harus diperbaiki,” ujar salah seorang pekerja perbaikan candi.
Candi borobudur tampak sepi dan
mengalami penurunan pengunjung. Penurunan ini disebabkan imbas dari gempa
Yogjakarta di tahun 2006 yang merusak candi, sehingga daya tarik candi
borobudur sedikit berkurang.
Seperti yang dikatakan petugas tiket
candi borobudur, ”Pengunjung Candi Borobudur mengalami penurunan sekitar 20
persen. Penyebabnya mungkin karena dampak dari gempa tahun 2006,”
ujarnya.
Kenyamanan dan kebersihan Candi
Borobudur juga terlihat kurang. Banyak coretan di dinding candi dan sampah
berserakan di areal candi. Selain itu juga di kawasan Candi Borobudur banyak
pedagang yang menawarkan barang dagangan secara paksa dan mengganggu kenyamanan
pengunjung.
“Petugas sudah membersihkan sampah
dan coretan di dinding candi, tapi tetap saja masih ada pengunjung yang buang
sampah sembarangan dan mencoret dinding candi,” ujar Slamet, petugas keamanan.
Slamet juga menambahkan untuk
masalah pedagang yang berjualan di areal candi dan menawarkan dagangan secara
paksa, ”Petugas sudah memberikan tempat berjualan di luar pintu masuk dan akan
bertindak tegas kepada pedagang yang memaksa pengunjung.” (AZWAR)
2.4
Patung Dan
Pengaruh Ritual Di Masyarakat
A.
Alkulturasi Kebudayaan
Nusantara dan Hindu-Buddha
Akulturasi kebudayaan yaitu suatu
proses percampuran antara unsur-unsur kebudayaan yang satu dengan kebudayaan
yang lain, sehingga membentuk kebudayaan baru. Kebudayaan baru yang merupakan hasil
percampuran itu masing-masing tidak kehilangan kepribadian/ciri khasnya. Oleh karena
itu, untuk dapat berakulturasi, masing-masing kebudayaan harus seimbang. Begitu
juga untuk kebudayaan Hindu-Buddha dari India dengan kebudayaan Indonesia asli.
Contoh hasil akulturasi antara kebudayaan
Hindu-Buddha dengan kebudayaan Indonesia
asli sebagai berikut.
1.
Seni Bangunan
Bentuk-bentuk bangunan candi di
Indonesia pada umumnya merupakan bentuk akulturasi antara unsur-unsur budaya
Hindu- Buddha dengan unsur budaya Indonesia asli. Bangunan yang megah,
patung-patung perwujudan dewa atau Buddha, serta bagian bagian candi dan stupa adalah
unsur-unsur dari India. Bentuk candi-candi di Indonesia pada hakikatnya adalah punden
berundak yang merupakan unsur Indonesia asli. Candi Borobudur merupakan salah satu
contoh dari bentuk akulturasi tersebut.
2.
Seni Rupa dan Seni
Ukir
Masuknya pengaruh India juga membawa
perkembangan dalam bidang seni rupa, seni pahat, dan seni ukir. Hal ini dapat dilihat
pada relief atau seni ukir yang dipahatkan pada bagian dinding-dinding candi. Misalnya,
relief yang dipahatkan pada dinding-dinding pagar langkan di Candi Borobudur
yang berupa pahatan riwayat Sang Buddha. Di sekitar Sang Buddha terdapat lingkungan
alam Indonesia seperti rumah panggung dan burung merpati.
Pada relief kalamakara pada candi dibuat
sangat indah. Hiasan relief kalamakara, dasarnya adalah motif binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Hal semacam ini sudah dikenal sejak masa sebelum Hindu. Binatang-binatang itu dipandang
suci, maka sering diabadikan dengan cara di lukis.
3.
Seni Sastra dan Aksara
Pengaruh India membawa perkembangan seni
sastra di Indonesia. Seni sastra waktu itu ada yang berbentuk prosa dan ada
yang berbentuk tembang (puisi). Berdasarkan isinya, kesusasteraan dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu tutur (pitutur kitab keagamaan), kitab hukum, dan wiracarita
(kepahlawanan).
Bentuk wiracarita ternyata sangat terkenal
di Indonesia, terutama kitab Ramayana dan Mahabarata. Kemudian timbul wira carita
hasil gubahan dari para pujangga Indonesia.Misalnya, Baratayuda yang digubah oleh
Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Juga munculnya cerita-cerita Carangan.
Berkembangnya karya sastra terutama
yang bersumber dari Mahabarata dan Ramayana, melahirkan seni pertunjukan wayang
kulit (wayang purwa). Pertunjukan wayang kulit di Indonesia, khususnya di Jawa sudah
begitu mendarah daging. Isi dan cerita pertunjukan wayang banyak mengandung nilai-nilai
yang bersifat edukatif (pendidikan) . Cerita dalam pertunjukan wayang berasal dari
India, tetapi wayangnya asli dari Indonesia. Seni pahat dan ragam luas yang ada
pada wayang disesuaikan dengan seni di Indonesia.
Di samping bentuk dan ragam hias wayang,
muncul pula tokoh-tokoh pewayangan yang khas Indonesia.Misalnya tokoh-tokoh punkawan
seperti Semar, Gareng, dan Petruk. Tokoh-tokoh ini tidak ditemukan di India. Perkembangan
seni sastra yang sangat cepat didukung oleh penggunaan huruf pallawa, misalnya dalam
karya-karya sastra Jawa Kuno. Pada prasasti-prasasti yang ditemukan terdapat unsur
India dengan unsur budaya Indonesia. Misalnya, ada prasasti dengan huruf Nagari
(India) dan huruf Bali Kuno (Indonesia).
4.
Sistem Kepercayaan
Sejak masa praaksara, orang-orang di
Kepulauan Indonesia sudah mengenal simbol-simbol yang bermakna filosofis. Sebagai
contoh, kalau ada orang meninggal, di dalam kuburnya disertakan benda-benda. Di
antara benda-benda itu ada lukisan seorang naik perahu, ini memberikan makna bahwa
orang yang sudah meninggal rohnya akan melanjutkan perjalanan ketempat tujuan
yang membahagiakanya itu alam baka. Masyarakat waktu itu sudah percaya adanya kehidupan
sesudah mati, yakni sebagai roh halus. Oleh karena itu, roh nenek moyang dipujaoleh
orang yang masih hidup (animisme).
Setelah masuknya pengaruh India
kepercayaan terhadap roh halus tidak punah. Misalnya dapat dilihat pada fungsi candi.
Fungsi candi atau kuil di India adalah sebagai tempat pemujaan. Di Indonesia,
di samping sebagai tempat pemujaan, candi juga sebagai makam raja atau untuk menyimpan
abu jenazah raja yang telah meninggal. Itulah sebabnya peripih tempat penyimpanan
abu jenazah raja didirikan patung raja dalam bentuk mirip dewa yang dipujanya.Ini
jelas merupakan perpaduan antara fungsi candi di India dengan tradisi pemakaman
dan pemujaan roh nenek moyang di Indonesia.
Bentuk bangunan lingga dan yoni juga
merupakan tempat pemujaan terutama bagi orang-orang Hindu penganut Syiwaisme. Lingga
adalah lambang Dewa Syiwa. Secara filosofis lingga dan yoni adalah lambang kesuburan
dan lambang kemakmuran. Lingga lambang laki-laki dan yoni lambang perempuan.
5.
Sistem Pemerintahan
Setelah datangnya pengaruh India di
Kepulauan Indonesia, dikenal adanya sistem pemerintahan secara sederhana. Pemerintahan
yang dimaksud adalah semacam pemerintah disuatu desa atau daerah tertentu. Rakyat
mengangkat seorang pemimpin atau semacam kepala suku. Orang yang dipilih sebagai
pemimpin biasanya orang yang sudah tua (senior), arif, dapat membimbing,
memiliki kelebihan-kelebihan tertentu termasuk dalam bidang ekonomi, berwibawa,
serta memiliki semacam kekuatan gaib (kesaktian). Setelah pengaruh India masuk,
maka pemimpin tadi diubah menjadi raja dan wilayahnya disebut kerajaan. Hal ini
secara jelas terjadi di Kutai.
Salah satu bukti akulturasi dalam bidang
pemerintahan, misalnya seorang raja harus berwibawa dan dipandang memiliki kekuatan
gaib seperti pada pemimpin masa sebelum Hindu-Buddha. Karena raja memiliki kekuatan
gaib, maka oleh rakyat raja dipandang dekat dengan dewa. Raja kemudian disembah,
dan kalau sudah meninggal, rohnya dipuja-puja.
2.5 Bagaimana Pemeliharaannya
Balai
Konservasi Borobudur dalam beberapa tahun terakhir mengurangi penggunaan bahan kimia
dalam pemeliharaan Candi Borobudur untuk pelestarian lingkungan dan kenyamanan
pengunjung.
Kepala
Seksi Layanan Konservasi Balai Konservasi Borobudur Iskandar M. Siregar
mengatakan, pembersihan atau pemeliharaan candi tidak lagi memakai bahan kimia
sejak tahun 2010. Menurutnya, penggunaan bahan kimia saat ini hanya untuk
mengelem batu yang pecah atau retak dan perbaikan kebocoran, sedangkan untuk
mengendalikan pertumbuhan lumut tidak lagi menggunakan bahan kimia.
Pembersihan
atau pemeliharaan Candi Borobudur, katanya kini dilakukan manual dengan
menyikat atau mencabut sehingga setiap hari petugas melakukannya secara
bergiliran. Ia menuturkan, sebelumnya selalu menggunakan cairan kimia untuk
menghambat pertumbuhan lumut bisa tertunda dua hingga tiga bulan.
"Kalau
dulu hampir setiap tahun Candi Borobudur disemprot bahan kimia untuk membasmi
lumut, namun sekarang tidak lagi digunakan," katanya.
Menurut
dia dampak pemakaian bahan kimia tersebut hingga sekarang belum kelihatan,
tetapi untuk lingkungan sewaktu-waktu bisa saja terjadi dampaknya. "Selain
itu, untuk pekerja bahan kimia berbahaya termasuk ke batu candi. Mungkin
sekarang tidak kelihatan, tetapi 100 atau 200 tahun yang akan datang bisa saja
terjadi dampak tersebut," katanya.
.
1. Kelestarian Candi Borobudur sebagai Warisan
Dunia
Candi Borobudur pertama kali dipugar pada tahun
1907-1911 oleh van Erp untuk memperbaiki dan mengembalikan bagian Arupadatu dan
stupa induk. Pemugaran kedua pada tahun 1973-1983 oleh pemerintah Indonesia
yang dibantu dari Unesco dan negara-negara donor. Pemugaran tahap kedua adalah
untuk memperbaiki dan mengembalikan bagian Rupadatu (tubuh candi). Meskipun
pemugaran dinyatakan sudah selesai, tetapi masih meninggalkan pekerjaan besar
yaitu pemeliharaan, perawatannya, dan pelestariannya sebagai Warisan Dunia.
Candi Borobudur sebagai salah satu karya besar nenek moyang bangsa Indonesia
dan sudah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) tentunya
memerlukan pemeliharaan, perawatan, dan upaya pelestarian secara khusus
sesuai dengan standard pemeliharaan sebagai tinggalan Warisan Dunia.
Pada kenyataannya kelestarian Candi Borobudur tentunya
sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal yang dimaksud adalah aspek bahan dan aspek
konstruksi bangunan candi. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi
kelestarian Candi Borobudur adalah faktor lingkungan, baik yang bersifat biotis
(lumut, algae, dan jasad renik lainnya) dan yang bersifat abiotis (panas
matahari, hujan, kelembaban, dan sebagainya). Kedua faktor yang tersebut saling
berinteraksi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kelestarian terhadap
Candi Borobudur. Lebih-lebih bangunan Candi Borobudur berada di tempat yang
terbuka sehingga faktor lingkungan yang bersifat abiotis, khususnya pengaruh
air hujan, sangat berpengaruh terhadap kelestarian bangunan Candi Borobudur.
Selain itu itu juga ada faktor lain yang dapat
mempengaruhi kelestarian Candi Borobudur sebagai dampak negatif dari
pemanfaatan sebagai obyek wisata. Pemanfaatan yang intensif sebagai obyek
wisata antara lain dapat mengakibatkan tekanan pada daya dukung (carrying
capasity) baik terhadap bangunan candi maupun lingkungan.
Oleh karena itu, untuk meminimalisasi kerusakan akibat faktor-faktor penyebab kerusakan dan dampak negatif dari pemanfaatan dilakukan berbagai bentuk monitoring secara kontinyu. Monitoring yang kontinyu ini juga bertujuan untuk menciptakan kondisi keterawatan (state of conservation) sesuai standard keterawatan sebagai Warisan Dunia. Monitoring rutin yang dilakukan terhadap Candi Borobudur dan lingkungannya :
Oleh karena itu, untuk meminimalisasi kerusakan akibat faktor-faktor penyebab kerusakan dan dampak negatif dari pemanfaatan dilakukan berbagai bentuk monitoring secara kontinyu. Monitoring yang kontinyu ini juga bertujuan untuk menciptakan kondisi keterawatan (state of conservation) sesuai standard keterawatan sebagai Warisan Dunia. Monitoring rutin yang dilakukan terhadap Candi Borobudur dan lingkungannya :
1. Monitoring Keterawatan Batu
Candi
2. Monitoring Stabilitas Candi
dan Bukit
3. Monitoring Dampak Lingkungan
4. Monitoring Geohidrologi
5. Monitoring Kawasan
2.6 Pengaruh Pengunjung Wisata Terhadap
Perekonomian Masyarakat, Sosial, Politik Dan Nilai Budaya
A. Pengaruh Objek Wisata Candi Borobudur Terhadap Wisatawan
Candi Borobudur memiliki keistimewaan dan pesona keindahan yang bukan hanya
dari bentuk bangunan dan tata ruang, namun juga dari sisi filosofi dan
sejarahnya. Adanya Objek Wisata Candi Borobudur yang dapat mendatangkan
wisatawan baik dari dalam negeri maupun wisatawan asing. Objek Wisata Candi
Borobudur juga memberikan pengaruh bagi wisatawan baik pengaruh positif maupun
negatif. Pengaruh positifnya yaitu wisatawan dapat menikmati keindahannya,
sebagai tempat peribadatan bagi umat yang beragama Budha . Ada juga pengaruh
negatifnya seperti para wisatawan kelelahan saat mencapai puncak tertinggi
Candi Borobudur akibatnya banyak wisatawan yang pingsan.
B. Pengaruh Objek Wisata Candi Borobudur Terhadap Pedagang
Hampir
semua penduduk di sekitar Candi Borobudur memperoleh pendapatan dari berdagang
di kawasan Candi Borobudur. Adanya obyek wisata candi Borobudur memberikan pengaruh
positif bagi perilaku sosial ekonomi pedagang yaitu semakin luasnya kesempatan
usaha, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan dan pola pikir
pedagang dalam pengembangan usaha dagang. Sedangkan pengaruh negatifnya yaitu
meningkatnya harga di daerah wisata, adanya persaingan dan pertentangan atau
pertikaian dan pencemaran lingkungan. Keberadaan taman borobudur berpengaruh
terhadap perilaku sosial ekonomi pedagang. Proses interaksi sosial menghasilkan
dua pola yaitu pola interaksi sosial asosiatif dan pola interaksi sosial
disosiatif. Bagi pedagang agar memiliki sikap terbuka untuk menerima
perbedaan-perbedaan agar lebih aktif memberikan penyuluhan untuk mencegah
persaingan dan pertentangan atau pertikaian antara pedagang untuk menciptakan
lingkungan taman yang aman dan nyaman.
C. Keuntungan Yang Di Dapat Pedagang Di Kawasan
Candi Borobudur
Candi
Borobudur yang terletak di kabupaten Magelang, sangat membantu sekali dalam
perekonomian rakyat setempat. Karena dengan adanya tempat Wisata Candi
Borobudur disekitar masyarakat tersebut, para penduduk dapat membuka usaha di
sekitar Candi Borobudur seperti berdagang. Banyak masyarakat yang berjualan
disekitar lingkungan Objek Wisata Candi Borobudur ,baik yang berjualan makanan
maupun cendera mata. Ada juga yang menyediakan jasa transportasi.
Adanya
Objek Wisata Candi Borobudur memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan para
pedagang karena pedagang dapat memanfaatkan potensi Objek Wisata Candi
Borobudur sebagai lapangan pekerjaan bagi mereka. Dengan banyaknya usaha dagang
yang dikelola oleh para pedagang akan membantu pedagang dalam meningkatkan
kemakmuran dan kesejahteraan hidup pedagang. Adanya Objek Wisata Candi
Borobudur yang dimanfaatkan oleh penduduk sekitar Candi Borobudur terutama yang
bekerja menjadi pedagang di Taman Borobudur dapat membantu tingkat kemakmuran
dan kesejahteraan hidup para pedagang.
Pendapatan
merupakan keuntungan ekonomi yang didapat seseorang yang menyangkut jumlah yang
dinyatakan dengan uang. Pendapatan yang diperoleh akan digunakan untuk
membiayai kehidupan sehari-hari para pedagang yang meliputi kebutuhan pangan
sandang dan papan yang merupakan kebutuhan primer maupun sekunder. Untuk
membiayai kebutuhan hidupnya ada kalanya dari pendapatan yang diperoleh apabila
ada sisa sebagai pedagang di Taman Borobudur dengan memperoleh penghasilan
bersih antara Rp 30.000 – Rp 50.000 jika berdagang pada hari biasa. Tetapi jika
pedagang pada waktu liburan biasa mencapai ±Rp. 100.000 perhari. Candi juga
menyerap tenaga kerja, sehingga tidak banyak jumlah pengangguran.
D. Manfaat Objek Wisata Candi Borobudur
Sebagai Pendidikan Bagi Wisatawan Para Pelajar
Bagi
dunia pendidikan Candi Borobudur merupakan tempat kajian ilmu, khususnya ilmu
sejarah. Siswa atau kalangan pendidikan dengan mengunjungi Objek Wisata Candi
Borobudur dapat mengetahui dan menggali sejarah masa lampau dan mempelajari
kehidupan dimasa lalu. Dengan mengetahui sejarah berdirinya maupun pada masa
kejayaannya maka para siswa atau pelajar akan sadar betapa besar peradaban
bangsa kita dimasa lalu. Candi Borobudur adalah salah satu peninggalan sejarah
dan budaya yang harus dilestarikan dan dijaga agar nilai-nilai bangsa ini tidak
jatuh. Dikalangan pelajar, Candi Boroudur merupakan bukti dari betapa tingginya
peradaban budaya bangsa kita pada waktu dulu.
Dengan
mempelajari sejarah dan budaya masa lalu, pelajar akan mengerti perjuangan para
pendahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Oleh karena
itu, sebagai pelajar seharusnya menjaga dan melestarikan budaya dan
tempat-tempat bersejarah yang berada dibumi Indonesia ini seperti Candi
Borobudur.
Bab
III
KESIMPULAN
DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Candi borobudur merupakan salah satu
warisan dunia yang mesti kita jaga, agar generasi muda selanjutnya bisa
menikmati betapa indahnya candi borobudur tersebut. Bentuk-bentuk bangunan
candi di Indonesia pada umumnya merupakan bentuk akulturasi antara unsur-unsur
budaya Hindu- Buddha dengan unsur budaya Indonesia asli.
Candi Borobudur adalah candi
terbesar agama budha di dunia. Kemegahan Candi Borobudur tidak hanya menunjukan
kemampuan rancang bangunan nenek moyang Indonesia yang luar biasa tetapi
menunjukan penguasaan ilmu perbintangan . Struktur dari Candi Borobudur
merupakan deskripsi dari perjalanan kehidupan manusia dan kaitanya dengan alam
semesta yang diyakini oleh warga budha mahayana , yaitu Kmadhatu , Rupadhatu
dan Arupadhatu
Pada kenyataannya kelestarian Candi
Borobudur tentunya sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dimaksud adalah aspek bahan
dan aspek konstruksi bangunan candi. Sedangkan faktor eksternal yang
mempengaruhi kelestarian Candi Borobudur adalah faktor lingkungan, baik yang
bersifat biotis (lumut, algae, dan jasad renik lainnya) dan yang bersifat
abiotis (panas matahari, hujan, kelembaban, dan sebagainya).
3.2 Saran
Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan menyajikan beberapa saran
diantaranya:
a.
Kita sebagai generasi muda harus menjadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan berlatih supaya
menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa.
b.
Kita sebagai warga Negara Indonesia harus menjaga dan melestarikan budaya bangsa dengan memelihara tempat – tempat bersejarah sebagai
peninggalan nenek moyang kita.
c.
Penulis berharap dengan berkembangnya kebudayaan
barat di harapkan pada rekan generasi muda mampu memilih dan memilah budaya yang masuk dan berusaha
mempertahankan kebudayaan bangsa sendiri.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar